Posted 2 November 2026 by Bintang
Angiografi koroner memberikan gambaran mengenai bentuk dan kontur pembuluh darah. Sementara itu, Intravascular Ultrasound (IVUS) memungkinkan dokter melihat kondisi bagian dalam pembuluh darah secara lebih detail, mulai dari lumen, plak aterosklerosis, hingga struktur dinding pembuluh darah.
Pemeriksaan IVUS yang optimal pada dasarnya perlu menjawab tiga pertanyaan penting: di mana lokasi lesi, bagaimana menentukan ukuran stent yang tepat, dan apa saja yang perlu dievaluasi setelah stent dipasang?
Artikel ini disusun berdasarkan materi pembelajaran Prof. Elias Hanna pada tahun 2021, dengan penyesuaian berdasarkan konsensus dan penelitian ilmiah yang diterbitkan setelahnya.

Gambar 1. Penampang melintang arteri koroner normal. Kateter IVUS berada di bagian tengah dan dikelilingi oleh lumen pembuluh darah. Dari bagian dalam ke luar terdapat lapisan intima, media, dan adventitia. Pada pembuluh darah yang mengalami kelainan, batas antarlapisan mungkin tidak terlihat sejelas ilustrasi.
Langkah pertama dalam membaca gambar IVUS adalah mengenali struktur dasar dinding pembuluh darah.
Prof. Hanna menyarankan untuk terlebih dahulu mencari lapisan media yang biasanya terlihat sebagai cincin dengan ekogenisitas relatif rendah atau lebih gelap. Setelah itu, identifikasi lapisan intima beserta plak di sisi dalam, serta adventitia yang umumnya tampak lebih terang di bagian luar.
Perlu diperhatikan bahwa kateter atau guidewire yang terlihat di tengah gambar bukanlah lumen pembuluh darah. Lumen biasanya tampak sebagai area gelap di antara kateter dan dinding pembuluh darah. Namun, aliran darah, pengaturan gain, maupun artefak dapat menimbulkan bintik-bintik ekogenik di dalam lumen.
Pada pembuluh darah yang mengalami aterosklerosis, lapisan intima biasanya menebal dan plak sering kali tersebar secara eksentrik atau tidak merata.
Karena itu, pengamatan gambar secara berurutan selama proses pullback jauh lebih informatif dibandingkan hanya mengandalkan satu gambar penampang.
Kalsifikasi berat, pembuluh darah yang berkelok, atau posisi pencitraan yang tidak sejajar dengan sumbu pembuluh darah dapat mengaburkan struktur dinding. Kondisi tersebut perlu dipertimbangkan ketika menilai keakuratan pengukuran.
Urutan sederhana dalam membaca IVUS adalah mengidentifikasi batas lumen terlebih dahulu, kemudian mencari lapisan media dan External Elastic Membrane (EEM), lalu mengevaluasi plak yang berada di antaranya. Selanjutnya, gunakan gambar selama pullback untuk menemukan percabangan, segmen referensi, dan lokasi penyempitan paling berat.
Sebelum pemeriksaan dimulai, pastikan antikoagulasi dan jalur guidewire telah dipersiapkan sesuai prosedur. Kateter IVUS juga perlu melalui proses flushing, pembuangan udara, dan kalibrasi sesuai petunjuk sistem yang digunakan.
Jika kondisi pasien memungkinkan, vasodilator koroner dapat diberikan sesuai protokol institusi.
Kateter IVUS kemudian diarahkan melewati lesi hingga mencapai bagian distal pembuluh darah. Setelah berada pada posisi yang tepat, lakukan pullback secara kontinu menuju bagian proksimal sambil merekam seluruh area lesi, segmen referensi, dan percabangan penting.
Apabila kualitas gambar kurang baik, pemeriksaan dapat diulang untuk memperoleh hasil yang lebih jelas.
Selama kateter dimajukan maupun ditarik, posisi guidewire harus tetap stabil. Jika ditemukan hambatan yang cukup besar, evaluasi terlebih dahulu posisi guidewire, kateter, dan anatomi pembuluh darah.
Pada lesi yang sangat sempit sehingga kateter IVUS tidak dapat melewatinya, predilatasi menggunakan balon dapat dipertimbangkan setelah risiko tindakan dinilai.

Gambar 2. Gambaran ekogenik akibat aliran darah dan batas lumen. Perbandingan beberapa tampilan dari kasus yang sama menunjukkan pentingnya pengamatan dinamis selama pullback serta flushing bila diperlukan.
Aliran darah yang lambat, pantulan ultrasound dari sel darah, bayangan guidewire, dan potongan gambar yang miring dapat membuat batas lumen terlihat kurang jelas.
Untuk membedakan darah yang mengalir dengan jaringan yang menetap, Prof. Hanna memperagakan penggunaan flushing menggunakan larutan saline atau media kontras.
Pada sistem tertentu, fitur seperti ChromaFlo dapat membantu memperlihatkan area yang mengalami pergerakan aliran darah. Namun, fitur ini bukan alat untuk mengukur kecepatan aliran darah.
Bayangan akustik guidewire biasanya menutupi struktur yang berada di belakangnya. Sementara itu, pada sistem IVUS dengan transduser mekanis yang berputar, pembuluh darah yang berkelok dapat menimbulkan artefak rotasi tidak seragam (non-uniform rotational distortion).
Jika terdapat area gambar yang tidak jelas, periksa kembali posisi guidewire dan kondisi sistem pencitraan. Bila perlu, ulangi pullback daripada memaksakan pengukuran pada batas struktur yang tidak dapat diidentifikasi dengan baik.

Gambar 3. Perubahan gambaran percabangan selama pullback. Gambar sebelah kanan menunjukkan posisi yang lebih distal, sedangkan gambar sebelah kiri lebih proksimal. Percabangan yang secara bertahap menyatu dengan pembuluh utama dapat digunakan sebagai penanda anatomi.
Percabangan pembuluh darah merupakan salah satu penanda penting untuk menentukan lokasi lesi dan posisi tepi stent.
Selama pullback, cabang samping biasanya terlihat semakin mendekat hingga akhirnya menyatu dengan lumen pembuluh utama. Sebaliknya, pembuluh darah lain yang berdekatan mungkin tetap terlihat terpisah.
Untuk memastikan interpretasi yang tepat, gambar IVUS sebaiknya dibandingkan dengan angiografi dan beberapa frame yang berurutan.
Hal ini sangat penting terutama pada lesi bifurkasi, left main, dan Chronic Total Occlusion (CTO), karena struktur pembuluh darah yang berdekatan dapat menyerupai lumen target.

Gambar 4. Tiga area penting pada satu penampang IVUS. Garis merah menunjukkan luas lumen, garis hijau menunjukkan luas pembuluh darah berdasarkan EEM, sedangkan area di antaranya merupakan plak beserta lapisan media.
Dalam interpretasi IVUS, terdapat dua parameter berbentuk persentase yang sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki makna berbeda.
Plaque Burden menunjukkan proporsi area pembuluh darah yang ditempati oleh plak dan lapisan media.

Sementara itu, Area Stenosis menunjukkan seberapa besar penyempitan luas lumen pada lokasi lesi dibandingkan dengan segmen referensi.

Minimum Lumen Area (MLA) adalah luas lumen terkecil pada area lesi.
Segmen referensi sebaiknya dipilih dari area yang berdekatan dengan lesi, memiliki plak minimal, dan mempertimbangkan perubahan alami diameter pembuluh darah.

Gambar 5. Contoh pengukuran dengan EEM area sekitar 12,5 mm², MLA sekitar 3,5 mm², dan luas lumen referensi proksimal sekitar 7 mm².
Berdasarkan angka tersebut, diperoleh hasil:

Meskipun berasal dari lesi yang sama, kedua angka tersebut menjelaskan kondisi yang berbeda. Keduanya juga tidak dapat langsung disamakan dengan persentase penyempitan diameter pada angiografi.
Pada positive remodeling, pembuluh darah mengalami pelebaran ke arah luar sehingga dapat mengakomodasi pertumbuhan plak tanpa langsung menyebabkan penyempitan lumen yang berat.
Sebaliknya, pada negative remodeling, ukuran pembuluh darah mengecil sehingga penyempitan lumen dapat menjadi lebih signifikan.
Perlu diingat bahwa angka 3,5 mm² dan 7 mm² merupakan ukuran luas, bukan diameter. Karena itu, perbedaan luas tersebut tidak berarti diameter lumen berkurang tepat setengahnya.
Apabila bayangan kalsifikasi menutupi batas EEM, pengukuran plaque burden juga dapat menjadi kurang akurat.

Gambar 6. Contoh plak dengan area hipoekoik. Bagian gelap di dalam plak menunjukkan komponen dengan ekogenisitas rendah. Interpretasinya perlu mempertimbangkan ekogenisitas adventitia dan pengaturan gain.
Plak hipoekoik terlihat sebagai area dengan pantulan ultrasound yang rendah sehingga tampak lebih gelap dibandingkan jaringan sekitarnya.
Gambaran ini dapat ditemukan pada jaringan kaya lipid atau area nekrotik. Namun, tampilan serupa juga dapat muncul akibat trombus, rongga plak yang mengalami ruptur, maupun artefak aliran darah.
Dengan demikian, area gelap pada IVUS tidak dapat langsung dianggap sebagai plak lipid atau plak yang tidak stabil.
Jaringan fibrosa umumnya memiliki ekogenisitas yang mendekati adventitia. Dalam praktik klinis, banyak lesi memiliki komposisi campuran sehingga interpretasinya harus dilakukan secara menyeluruh.

Gambar 7. Contoh kalsifikasi superfisial dan profunda. Ilustrasi bagian kiri atas memperlihatkan cara mengukur sudut kalsifikasi dalam derajat.
Kalsifikasi pada IVUS biasanya tampak sebagai struktur yang sangat terang atau hiperekoik, disertai bayangan akustik di bagian belakangnya.
Kalsifikasi superfisial yang berada dekat lumen cenderung lebih berisiko menghambat ekspansi balon dan stent. Sementara itu, kalsifikasi yang lebih dalam tetap perlu dievaluasi berdasarkan luas dan kondisi pembuluh darah.
Ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan selama pemeriksaan, yaitu sudut kalsifikasi maksimum, panjang kalsifikasi yang berkelanjutan, lokasi kalsifikasi, keberadaan nodul kalsifikasi, serta ukuran pembuluh darah.
Untuk mempermudah penilaian, bayangkan penampang pembuluh darah seperti permukaan jam. Perhatikan seberapa besar bagian lingkaran yang ditempati kalsifikasi, lalu amati frame berikutnya untuk menentukan apakah kalsifikasi hanya terdapat pada area pendek atau memanjang sepanjang pembuluh darah.
Karena bayangan akustik menutupi jaringan di belakang kalsifikasi, IVUS memiliki keterbatasan dalam mengukur ketebalan kalsium secara langsung.
Pada pasien dengan Acute Coronary Syndrome (ACS), angiografi terkadang menunjukkan lesi dengan batas yang kabur, filling defect, atau retensi kontras.
Temuan tersebut dapat mengarah pada kemungkinan trombus maupun ruptur plak. Namun, kalsifikasi juga dapat menghasilkan gambaran angiografi yang menyerupai kondisi tersebut.
IVUS membantu memperjelas mekanisme lesi melalui evaluasi material di dalam lumen, kontinuitas permukaan plak, dan keberadaan rongga yang berhubungan dengan lumen pembuluh darah.

Gambar 8. Gambaran IVUS dan ilustrasi ruptur atau pemisahan plak. Area hipoekoik yang berhubungan dengan lumen dapat mengarah pada kemungkinan rongga akibat ruptur plak.
Jika terdapat rongga akibat ruptur yang berhubungan dengan lumen utama, batas keduanya harus diidentifikasi secara cermat.
Prof. Hanna menjelaskan bahwa memasukkan area rongga ruptur ke dalam perhitungan lumen efektif dapat menyebabkan derajat stenosis terlihat lebih ringan daripada kondisi sebenarnya.
Meski demikian, resolusi IVUS memiliki keterbatasan untuk menilai fibrous cap yang sangat tipis, trombus superfisial, maupun erosi plak. Dalam situasi tertentu, Optical Coherence Tomography (OCT) dan informasi klinis tambahan dapat membantu.

Gambar 9. Contoh lesi dengan gambaran angiografi yang kurang jelas. Struktur hiperekoik disertai bayangan akustik pada IVUS mendukung kemungkinan nodul kalsifikasi, bukan semata-mata trombus.
Ketika mekanisme lesi belum dapat dipastikan, dokter perlu menggabungkan informasi dari IVUS, angiografi, dan kondisi klinis sebelum menentukan strategi terapi.
Ruptur plak, nodul kalsifikasi, dan trombus juga dapat ditemukan secara bersamaan. Oleh karena itu, keputusan terapi tidak sebaiknya didasarkan hanya pada satu karakteristik gambar.
Apabila terlihat celah pada struktur plak, amati apakah celah tersebut berlanjut pada frame berikutnya dan berhubungan dengan lumen. Urutan waktu sebelum dan sesudah dilatasi balon juga penting untuk membedakan kelainan yang sudah ada dengan diseksi akibat tindakan.
Sebelum melakukan pemasangan stent, IVUS dapat digunakan untuk membuat gambaran anatomi lesi secara lebih menyeluruh.
Mulai dari distal menuju proksimal, identifikasi segmen referensi distal, lokasi MLA, area kalsifikasi paling berat, segmen referensi proksimal, serta percabangan yang perlu diperhatikan.
Lokasi ideal untuk tepi stent adalah area dengan lumen relatif besar, plaque burden rendah, serta sebisa mungkin menghindari area kaya lipid dan kalsifikasi berat.
Dalam konsensus pencitraan intrakoroner, plaque burden kurang dari 50% pada area tepi stent sering digunakan sebagai salah satu target optimalisasi.
Namun, pada penyakit koroner difus, target tersebut tidak selalu memungkinkan. Dokter perlu mempertimbangkan keseimbangan antara cakupan lesi dan panjang stent yang digunakan.

Gambar 10. Perbandingan penampang segmen referensi proksimal, area lesi, dan segmen referensi distal. Garis kuning menunjukkan batas luar pembuluh darah, sedangkan garis biru menunjukkan batas lumen.
Pemilihan ukuran stent merupakan salah satu manfaat utama penggunaan IVUS dalam prosedur PCI.
Bagi operator yang masih mempelajari interpretasi IVUS, diameter lumen pada segmen referensi distal dapat menjadi titik awal yang relatif konservatif untuk menentukan ukuran stent.
Apabila diameter pembuluh darah bagian proksimal lebih besar, ukuran tersebut dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan strategi post-dilatasi.
Dalam praktiknya, operator perlu mencatat diameter lumen referensi distal dan proksimal beserta lokasinya, kemudian menentukan batas awal dan akhir lesi yang akan ditutup oleh stent.
Jika segmen referensi masih memiliki plak yang cukup banyak, pencarian lokasi alternatif dapat dilakukan dengan mempertimbangkan konsekuensi penambahan panjang stent.
Saat memilih balon untuk post-dilatasi, batas maksimum ekspansi yang diperbolehkan oleh produsen stent juga perlu diperhatikan.
Selain pengukuran berdasarkan lumen, konsensus terbaru juga menerima pendekatan sizing berdasarkan EEM pada segmen referensi apabila batas EEM dapat terlihat dengan jelas.
Setiap metode memiliki aturan pengukuran dan pembulatan tersendiri. Pemilihannya harus mempertimbangkan risiko perforasi, diseksi, dan spesifikasi perangkat.
Ukuran EEM pada area lesi tidak boleh langsung dianggap sebagai diameter lumen yang wajib dicapai setelah pemasangan stent.
Pada lesi non-left main dengan derajat stenosis sedang, tidak ada satu nilai MLA yang dapat digunakan secara universal untuk menentukan kebutuhan pemasangan stent.
Keputusan intervensi harus mempertimbangkan gejala pasien, bukti iskemia, serta pemeriksaan fisiologi koroner seperti FFR atau iFR.
IVUS memberikan informasi anatomi dan mekanisme lesi, sedangkan pemeriksaan fisiologi membantu menentukan dampaknya terhadap aliran darah.
Kedua pendekatan tersebut saling melengkapi, terutama ketika tingkat penyempitan yang terlihat tidak sesuai dengan kondisi klinis pasien.

Gambar 11. Gambaran IVUS pada area sekitar LAD dan LCx. Kalsifikasi dan bayangan akustik ditandai untuk membantu memahami distribusinya pada area percabangan.
Lesi koroner dengan kalsifikasi berat dapat menghambat ekspansi balon maupun stent secara optimal.
Sebelum pemasangan stent, IVUS membantu menilai apakah lesi memerlukan persiapan tambahan atau lesion preparation.
Empat aspek utama yang perlu dievaluasi adalah sudut maksimum kalsifikasi, panjang kalsifikasi yang berkelanjutan, lokasi superfisial atau profunda, dan keberadaan nodul kalsifikasi.
Penilaian tersebut perlu dilengkapi dengan ukuran pembuluh darah referensi serta respons lesi terhadap dilatasi balon.
Jika kateter IVUS tidak dapat melewati lesi, penggunaan balon berukuran kecil untuk membuka jalur dapat dipertimbangkan sebelum pencitraan diulang.
Dalam materi pembelajarannya, Prof. Hanna menghubungkan kalsifikasi superfisial yang luas dengan kemungkinan perlunya tindakan rotational atherectomy atau rotablator.
Konsensus SCAI tahun 2024 menyebutkan bahwa modifikasi kalsium sebelum pemasangan stent patut dipertimbangkan pada kondisi tertentu, seperti kalsifikasi 360°, atau kalsifikasi sekitar 270° dengan panjang minimal 5 mm.
Keberadaan nodul kalsifikasi, ukuran pembuluh darah yang kecil, dan negative remodeling juga dapat meningkatkan risiko stent underexpansion.
Pilihan modifikasi lesi dapat meliputi balon khusus, rotational atherectomy, maupun intravascular lithotripsy (IVL).
Pemilihan metode tidak hanya ditentukan oleh sudut kalsifikasi, tetapi juga bentuk lesi, kemampuan perangkat melewati lesi, serta kondisi klinis pasien.
Setelah modifikasi kalsium dilakukan, respons ekspansi balon perlu dievaluasi kembali. IVUS dapat digunakan untuk menilai perubahan struktur kalsifikasi dan kesiapan lesi sebelum pemasangan stent.
Pada pasien ACS dengan trombus atau nodul kalsifikasi yang mengalami ruptur, indikasi penggunaan perangkat dan risiko komplikasi harus dinilai secara khusus.

Gambar 12. Ilustrasi tiga kondisi setelah pemasangan stent: malapposition di sebelah kiri, underexpansion di tengah, dan edge dissection di sebelah kanan.
Setelah stent dipasang, dua kondisi yang sering menjadi perhatian adalah stent underexpansion dan stent malapposition.
Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda dan tidak boleh dianggap sebagai kondisi yang sama.
Stent Underexpansion
Underexpansion terjadi ketika stent tidak mengembang secara memadai sehingga Minimum Stent Area (MSA) relatif kecil dibandingkan ukuran pembuluh darah yang menjadi referensi.
Penyebabnya dapat berupa kalsifikasi berat, ukuran perangkat yang kurang sesuai, atau persiapan lesi yang belum optimal.
Stent dapat mengalami underexpansion meskipun strut-nya sudah menempel pada jaringan pembuluh darah.
Untuk menanganinya, operator perlu mengidentifikasi lokasi MSA, mengevaluasi plak dan kalsifikasi, lalu menentukan apakah post-dilatasi atau strategi modifikasi tambahan diperlukan.
Stent Malapposition
Malapposition terjadi ketika terdapat celah antara sebagian strut stent dan dinding pembuluh darah.
Kondisi ini dapat ditemukan meskipun ekspansi stent secara keseluruhan sudah cukup baik.
Malapposition akut yang ringan dan terbatas pada area kecil terkadang dapat membaik seiring waktu. Namun, apabila celah cukup luas atau disertai underexpansion, optimalisasi perlu dipertimbangkan berdasarkan ukuran, lokasi, dan risiko tindakan.

Gambar 13. Perbandingan luas penampang stent sebesar 3,7 mm², 4,3 mm², dan 6,2 mm² terhadap area referensi sekitar 7,0 mm².
Sebagai ilustrasi, stent dengan diameter 3,0 mm yang berbentuk lingkaran sempurna memiliki luas geometris sekitar 7,1 mm².
Namun, angka tersebut hanya digunakan untuk membantu memahami hubungan antara diameter dan luas. Target ekspansi klinis tetap harus mempertimbangkan ukuran pembuluh darah referensi.
Jika MSA hanya 3,7 mm² sementara luas lumen referensi distal sekitar 7,0 mm², maka rasio ekspansinya sekitar 53%.
Hasil ini menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebab ekspansi yang belum memadai.
Perlu dipahami pula bahwa plak masih dapat terlihat di luar stent pada gambar IVUS. Temuan tersebut merupakan hal yang umum dan tidak selalu menunjukkan adanya masalah.
Optimalisasi stent harus mempertimbangkan ukuran pembuluh darah yang sesuai, kemampuan stent mengembang, dan toleransi dinding pembuluh darah terhadap ekspansi tambahan.
Evaluasi setelah pemasangan stent merupakan bagian penting dalam memastikan hasil PCI yang optimal.
Secara umum, pemeriksaan dapat dilakukan dengan urutan: menilai ekspansi stent, mengevaluasi kedua tepinya, lalu memeriksa apposition serta kondisi di dalam stent.
Lakukan pullback dari distal ke proksimal untuk menemukan lokasi dengan luas stent terkecil atau MSA.
Nilai tersebut kemudian dibandingkan dengan luas lumen referensi distal dan proksimal.
Konsensus EAPCI menyebutkan bahwa pada lesi non-left main, MSA lebih dari 5,5 mm² dan rasio terhadap rata-rata luas lumen referensi lebih dari 80% dapat digunakan sebagai acuan optimalisasi.
Namun, pada pembuluh darah kecil atau pembuluh dengan perbedaan ukuran proksimal dan distal yang cukup besar, interpretasi harus disesuaikan dengan kondisi anatomi serta risiko cedera pembuluh darah.
Penelitian ULTIMATE menggunakan kriteria optimalisasi yang berbeda, yaitu luas lumen minimum di dalam stent lebih dari 5,0 mm² atau lebih dari 90% luas lumen referensi distal.
Selain itu, penelitian tersebut juga menetapkan plaque burden kurang dari 50% pada area 5 mm di kedua tepi stent, serta tidak adanya diseksi tepi yang mencapai lapisan media dengan panjang lebih dari 3 mm.
Karena kriteria dari konsensus dan penelitian tidak sepenuhnya sama, metode yang digunakan harus dicantumkan secara jelas dalam dokumentasi.
Evaluasi tepi stent mencakup kemungkinan residual plaque, pergeseran plak, diseksi, dan hematoma intramural.
Diseksi yang kecil, superfisial, dan tidak mengganggu aliran darah terkadang dapat diobservasi.
Sebaliknya, diseksi yang lebih dalam, luas, menyebabkan gangguan aliran darah, atau menunjukkan perkembangan perlu mendapatkan penanganan yang sesuai.
Strategi penanganan dapat berupa dilatasi balon atau pemasangan stent tambahan, tergantung mekanisme dan kondisi anatomi.
Namun, penambahan panjang stent yang tidak diperlukan sebaiknya dihindari.
Sebagai contoh, apabila terlihat area hipoekoik pada tepi proksimal yang menekan lumen, perlu dipertimbangkan kemungkinan hematoma intramural. Pemeriksaan pullback berurutan dan angiografi dapat membantu menentukan luasnya.
Sementara itu, robekan intima yang kecil tanpa gangguan aliran darah mungkin cukup dievaluasi secara berkala apabila kondisinya stabil.
Setelah ekspansi dan kedua tepi stent dinilai, pemeriksaan dilanjutkan untuk mengidentifikasi malapposition yang bermakna, tissue protrusion, dan kemungkinan trombus.
Temuan IVUS perlu dikaitkan dengan hasil angiografi, perubahan elektrokardiogram, serta kondisi klinis pasien.
Jika dilakukan post-dilatasi atau tindakan korektif lainnya, evaluasi ulang menggunakan IVUS dan pemeriksaan aliran darah akhir dapat membantu memastikan hasil tindakan.
Pada lesi left main, bifurkasi, atau pembuluh darah dengan perbedaan diameter proksimal dan distal yang besar, penilaian ekspansi stent perlu dilakukan berdasarkan masing-masing segmen.
Satu angka MSA saja tidak selalu cukup untuk menggambarkan keseluruhan hasil tindakan.
Dokumentasi pemeriksaan IVUS setidaknya mencakup MSA beserta lokasinya, luas lumen referensi, kondisi plak dan diseksi di tepi stent, adanya malapposition yang bermakna, tindakan optimalisasi, serta hasil aliran darah akhir.
Pada lesi Left Main Coronary Artery (LMCA), pengukuran MLA menggunakan IVUS dapat membantu pengambilan keputusan klinis.
Menurut konsensus EAPCI, interpretasi MLA pada lesi left main dapat dikelompokkan sebagai berikut.
| Nilai MLA | Interpretasi klinis |
|---|---|
| Lebih dari 6 mm² | Umumnya mendukung pertimbangan untuk menunda tindakan revaskularisasi |
| 4,5–6 mm² | Area abu-abu; memerlukan evaluasi tambahan seperti FFR |
| Kurang dari 4,5 mm² | Cenderung menunjukkan lesi yang bermakna secara fisiologis |
Nilai tersebut bukan batas mutlak yang dapat diterapkan pada semua pasien.
Ukuran tubuh, distribusi lesi, dan kondisi klinis perlu diperhitungkan. Nilai 6 mm² tidak boleh secara otomatis dianggap sebagai penentu apakah semua pasien membutuhkan stent.
Pada area ostium atau bifurkasi left main, gambar yang terpotong secara miring dapat menyebabkan luas lumen terlihat lebih besar daripada sebenarnya.
Jika diperlukan, pullback dapat dilakukan melalui LAD dan LCx secara terpisah untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap.
Adanya lesi berat di bagian distal juga perlu dipertimbangkan karena dapat memengaruhi interpretasi pemeriksaan fisiologi koroner.

Gambar 14. Identifikasi struktur pada kasus in-stent restenosis. Ilustrasi menunjukkan batas lumen, pertumbuhan jaringan neointima, luas stent, EEM, dan plak di luar stent.
Pada pasien yang mengalami In-Stent Restenosis (ISR), IVUS dapat membantu mengidentifikasi penyebab utama penyempitan kembali.
Langkah pertama adalah menentukan apakah restenosis terjadi akibat stent yang sejak awal tidak mengembang secara optimal atau akibat pertumbuhan jaringan baru di dalam stent.
Pertumbuhan jaringan tersebut dapat berupa hiperplasia neointima maupun neoatherosclerosis. Pada beberapa kasus, lebih dari satu mekanisme dapat ditemukan secara bersamaan.
Jika luas stent sejak awal terlalu kecil, perlu dievaluasi apakah stent masih dapat diekspansi lebih lanjut.
Sebaliknya, jika ekspansi stent sudah memadai tetapi terdapat pertumbuhan jaringan yang signifikan, pilihan terapi ditentukan berdasarkan karakteristik lesi, luas keterlibatan, dan riwayat tindakan sebelumnya.
Dengan demikian, IVUS tidak hanya membantu memastikan adanya restenosis, tetapi juga memahami mekanisme yang mendasarinya sehingga terapi dapat direncanakan secara lebih tepat.
Materi pembelajaran Prof. Hanna yang menjadi dasar artikel ini dibuat pada tahun 2021.
Sejak saat itu, berbagai penelitian terus memperkuat peran pencitraan intravaskular dalam meningkatkan kualitas prosedur intervensi koroner.
Salah satunya adalah penelitian acak RENOVATE-COMPLEX-PCI yang diterbitkan pada tahun 2023. Penelitian ini memberikan dukungan tambahan terhadap penggunaan pencitraan intravaskular untuk memandu PCI pada lesi koroner kompleks.
Namun, perlu diperhatikan bahwa penelitian tersebut melibatkan penggunaan IVUS maupun OCT, sehingga hasilnya tidak dapat dianggap sebagai perbandingan langsung yang secara khusus mengevaluasi satu perangkat IVUS.
IVUS memiliki peran penting dalam membantu dokter memahami kondisi pembuluh darah koroner secara lebih mendalam, terutama pada lesi kompleks yang sulit dinilai hanya menggunakan angiografi.
Melalui IVUS, dokter dapat mengidentifikasi karakteristik plak, mengevaluasi kalsifikasi, menentukan ukuran dan panjang stent, serta memastikan hasil ekspansi dan apposition setelah pemasangan.
Penggunaan IVUS yang optimal bukan sekadar menghasilkan gambar pembuluh darah yang jelas, tetapi juga mengubah informasi pencitraan menjadi dasar pengambilan keputusan klinis yang lebih terukur.
Dengan menggabungkan hasil IVUS, angiografi, pemeriksaan fisiologi koroner, dan kondisi klinis pasien, strategi PCI dapat direncanakan serta dioptimalkan secara lebih menyeluruh.