Posted 14 Maret 2026 by Bintang
Penyakit arteri koroner (coronary artery disease/CAD) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas kardiovaskular di seluruh dunia. Kondisi ini terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan arteri koroner oleh plak aterosklerotik yang menghambat aliran darah ke otot jantung (Libby et al., 2019). Penanganan penyakit ini sering melibatkan prosedur percutaneous coronary intervention (PCI), yaitu tindakan minimal invasif untuk membuka kembali pembuluh darah yang menyempit.
Selama beberapa dekade terakhir, penggunaan stent koroner, khususnya drug-eluting stent (DES), menjadi standar terapi dalam PCI karena mampu menurunkan risiko restenosis dibandingkan stent logam konvensional (Bangalore et al., 2018). Namun, implantasi stent permanen juga memiliki keterbatasan, seperti risiko restenosis berulang, trombosis stent, serta keterbatasan fisiologis pembuluh darah akibat keberadaan implan permanen.
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, konsep “leave nothing behind” semakin berkembang dalam intervensi koroner modern. Pendekatan ini bertujuan untuk mengobati lesi pembuluh darah tanpa meninggalkan perangkat permanen di dalam arteri. Salah satu teknologi yang mendukung pendekatan ini adalah Drug-Coated Balloon (DCB).
Drug-Coated Balloon (DCB) adalah balon angioplasti yang dilapisi obat antiproliferatif, biasanya paclitaxel, yang dilepaskan ke dinding pembuluh darah selama proses inflasi balon. Tujuan utama teknologi ini adalah:
Berbeda dengan drug-eluting stent, DCB tidak meninggalkan struktur logam atau polimer di dalam pembuluh darah setelah prosedur selesai. Dengan demikian, integritas fisiologis arteri dapat dipertahankan lebih baik (Scheller et al., 2016).
Pendekatan ini sangat relevan pada beberapa kondisi klinis, terutama:
Prosedur penggunaan DCB biasanya mengikuti beberapa tahap utama dalam PCI:
Sifat lipofilik paclitaxel memungkinkan obat ini diserap dengan cepat ke dalam jaringan pembuluh darah dan tetap bertahan dalam konsentrasi terapeutik selama beberapa minggu (Unverdorben et al., 2015).
Berdasarkan pedoman European Society of Cardiology (ESC), DCB direkomendasikan terutama untuk penanganan in-stent restenosis (ISR), baik pada bare-metal stent maupun drug-eluting stent (Neumann et al., 2019).
ISR merupakan kondisi di mana terjadi penyempitan kembali pada lokasi stent yang sebelumnya telah dipasang. Penyebab utamanya adalah proliferasi jaringan neointima di dalam stent.
Penggunaan DCB pada ISR memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
Beberapa studi klinis menunjukkan bahwa DCB memiliki efektivitas yang sebanding dengan drug-eluting stent pada kasus ISR (Scheller et al., 2016).
Pendekatan tanpa implan permanen memberikan beberapa manfaat klinis penting.
Dengan tidak meninggalkan stent di dalam arteri, DCB memungkinkan pembuluh darah mempertahankan fungsi fisiologisnya.
Implan stent dapat menjadi faktor risiko trombosis stent pada jangka panjang. DCB menghilangkan risiko tersebut karena tidak meninggalkan struktur logam.
Tanpa stent permanen, pembuluh darah tetap lebih fleksibel untuk tindakan intervensi di masa depan jika diperlukan.
Pada beberapa pasien, penggunaan DCB dapat memungkinkan durasi terapi antiplatelet ganda yang lebih singkat dibandingkan DES.
Perkembangan teknologi DCB bertujuan meningkatkan efisiensi penghantaran obat serta performa navigasi perangkat dalam pembuluh darah yang kompleks.
Beberapa karakteristik teknis yang penting dalam desain DCB meliputi:
Teknologi pelapisan obat yang canggih memungkinkan retensi obat di dinding pembuluh darah selama beberapa minggu setelah prosedur, sehingga efek antiproliferatif tetap berlanjut.
| Aspek | Drug-Coated Balloon | Drug-Eluting Stent |
|---|---|---|
| Implan permanen | Tidak ada | Ada |
| Risiko trombosis stent | Sangat rendah | Ada |
| Fleksibilitas pembuluh | Lebih baik | Terbatas |
| Indikasi utama | ISR, small vessels | Lesi koroner umum |
| Durasi terapi antiplatelet | Potensi lebih pendek | Umumnya lebih lama |
Meskipun DCB memiliki banyak keunggulan, teknologi ini tidak selalu menggantikan peran stent. Pada lesi kompleks atau stenosis berat dengan recoil elastik tinggi, stent masih menjadi terapi yang lebih sesuai.
Beberapa keterbatasan DCB yang perlu diperhatikan antara lain:
Oleh karena itu, pemilihan pasien dan evaluasi anatomi lesi tetap menjadi faktor penting dalam menentukan strategi intervensi yang tepat.
Drug-Coated Balloon merupakan inovasi penting dalam intervensi koroner modern yang mendukung konsep “leave nothing behind.” Dengan kemampuan menghantarkan obat antiproliferatif secara langsung ke dinding pembuluh darah tanpa meninggalkan implan permanen, teknologi ini memberikan alternatif terapi yang efektif terutama pada kasus in-stent restenosis.
Pendekatan ini menawarkan berbagai keuntungan, termasuk pengurangan risiko komplikasi jangka panjang, fleksibilitas pembuluh darah yang lebih baik, serta potensi pengurangan durasi terapi antiplatelet. Namun demikian, pemilihan terapi tetap harus disesuaikan dengan karakteristik lesi dan kondisi klinis pasien.
Dengan perkembangan teknologi pelapisan obat dan desain balon yang semakin canggih, penggunaan DCB diperkirakan akan terus berkembang dalam praktik intervensi kardiologi di masa depan.
Bagi rumah sakit, dokter intervensi, atau institusi kesehatan yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai teknologi Drug-Coated Balloon untuk intervensi koroner, informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui:
📞 (+62) 812 8000 1102
🌐 meditrans.id
Solusi teknologi intervensi yang tepat dapat membantu meningkatkan kualitas terapi dan hasil klinis bagi pasien penyakit arteri koroner.
Bangalore, S., Toklu, B., Patel, N., Feit, F., & Stone, G. W. (2018). Newer-generation ultra-thin strut drug-eluting stents versus older second-generation drug-eluting stents. Circulation, 138(20), 2216–2226.
Libby, P., Buring, J. E., Badimon, L., et al. (2019). Atherosclerosis. Nature Reviews Disease Primers, 5(1), 56.
Neumann, F. J., Sousa-Uva, M., Ahlsson, A., et al. (2019). 2018 ESC/EACTS guidelines on myocardial revascularization. European Heart Journal, 40(2), 87–165.
Scheller, B., Hehrlein, C., Bocksch, W., et al. (2016). Treatment of coronary in-stent restenosis with a paclitaxel-coated balloon catheter. New England Journal of Medicine, 355(20), 2113–2124.
Unverdorben, M., Kleber, F. X., Heuer, H., et al. (2015). Treatment of small coronary arteries with a paclitaxel-coated balloon catheter. Clinical Research in Cardiology, 104(6), 468–475.